"Makasih ya udah mau jemput, kamu apa kabar?", tanyaku memecah senyap, sedari tadi hanya suara radio samar memutar kumpulan lagu tenang khas tengah malam.
Sebenarnya aku tidak masalah kita diam, sesekali melihatmu dari bangku samping kemudi saja sudah senang. Bukan, ini bukan gombal picisan yang biasa ada di cerita remaja kebanyakan, kamu tau pasti aku memang sejak awal senang melihatmu dari sisi ini, codet di pipi kirimu itu lho, alasannya.
"Iya, sampai Bandung jam segini, mau dijemput siapa lagi? Ke rumah Nina jam segini langsung juga enggak bisa kan?", jawabmu tenang, masih belum beranjak dari menatap jalan.
"Bisa aja sih naik grab langsung ke rumah Nina...,"
"Aku sehat, kamu sehat? Mama sehat?", kamu memotong cepat, seolah jawabanmu sebelumnya belum selesai. "Hmmm, kita nunggu pagi dimana, nih?", sekarang kamu sedikit melambat, sekali melihat aku hangat.
"Aku sehat, mama sehat, orang rumah alhamdulillah semuanya sehat... Hmm, lihat bintang?"
"Ke bukit? Okey, semoga langit cerah, ya.", jawabmu singkat.
Aku cuma mengangguk. Lucu ya, kita. Seperti koneksi yang sudah tahu kata sandinya, begitu jarak jadi dekat, semua tersambung mudah tanpa banyak syarat.
Lalu kita kembali diam. Jidatmu agak berkerut menatap jalan, aku duga karena berusaha menjaga kantuk biar tidak datang.
Terima kasih, ya.. ucapku lagi, kini hanya dalam hati.
Senangnya melihat Bandung versi tengah malam macam ini. Jalannya lengang. Lampu jalan kadang redam. Tidak ada hingar lalu lalang. Kendaraan pun paling satu dua.
Mobil mulai masuk jalan kelok dan menanjak, tanda kita semakin dekat tujuan, Bukit Bintang atau biasa orang sebut Puncak Bintang Bukit Moko, salah satu tempat kesukaanku melihat langit Bandung yang luas, dan kalo sedang beruntung, akan ada banyak bintang.
Aku membuka sedikit kaca jendela, menghirup napas panjang dan dalam, mengumpulkan banyak-banyak udara yang selalu bisa membuat lega. Samar, wangi kayu khas kamu juga masuk terbawa masuk hingga trakea sampai relung paru-paru, cukup dalam hingga membuatku tersenyum tipis. Wangi ini selalu sedikit banyak membuat nyaman, menjadikan tenang.
"Sampai, disini saja ya? Langitnya bagus dari sini," mobil kamu parkir di pinggir jalan satu belokan, belum sampai puncak, tapi sempurna.
Aku mengangguk, lalu keluar dari mobil. Berdiri dan memanjakan mata dengan pemandangan luar biasa indah di depan.
Kalian sudah pernah kesini tengah malam? Kalau belum, sini aku ceritakan suasananya, tidak akan sempurna menggambarkan, namun mungkin cukup membuatmu penasaran dan ingin lihat langsung lain kesempatan.
Bayangkan seolah sedang dipinggir pantai, dengan laut biru tenang yang terhampar luas sekali sampai tidak sanggup mata menjumpai ujungnya, sesekali ombak menghampiri kaki hangat, dan angin berhembus menyapa wajah kita ramah. Seperti itu.
Bedanya, ini bukan laut biru, melainkan bentangan lampu kelap kelip di kota Bandung, yang ujungnya pun sama tidak ada. Ditambah, banyak sekali bintang kecil, mungkin jutaan, bergantian tersenyum dan mengerling, berlomba menyapaku centil. Angin tak hentinya memeluk, sesekali mengecup wajahku dingin.
Aku memejam, pun kembali menarik napas dalam, aaah tenangnya... bisakah disini saja lama-lama?
Aku tersadar saat langkah kakimu mendekat, tanganmu menyentuh pundakku hangat, sepertinya kamu sadar aku mulai agak gemetar karena dinginnya tidak bersahabat.
"You know? I've never found somebody loves city lights and stars as much as you do. Aku enggak pernah paham kenapa kamu sesuka itu lihat bintang, while you are alone a star, even for many, it's just not all can stand your light, you know, including me," ucapmu tetiba sambil menatap kerlap,
...meratap kita.
--- Dianty, July 2021.
Aku tersadar saat langkah kakimu mendekat, tanganmu menyentuh pundakku hangat, sepertinya kamu sadar aku mulai agak gemetar karena dinginnya tidak bersahabat.
"You know? I've never found somebody loves city lights and stars as much as you do. Aku enggak pernah paham kenapa kamu sesuka itu lihat bintang, while you are alone a star, even for many, it's just not all can stand your light, you know, including me," ucapmu tetiba sambil menatap kerlap,
...meratap kita.
--- Dianty, July 2021.

Tidak ada komentar on "Menunggu Pagi"