Adalah Raka, Bukan Arya

"Kamu ini perempuan, pilihlah yang paling mencintaimu, bukan yang paling kamu cintai.

"Tapi Ma, bukankah bersama yang kita cinta itu lebih menyenangkan?" Tanyaku heran.

"Cinta laki-laki itu mudah pudar, Sayang. Tetapi cinta perempuan mudah tumbuh seiringnya kebersamaan." Mama menggenggam tanganku lembut, lalu diremasnya perlahan. "Pernikahan tidak selalu mudah dan perempuan akan lebih banyak berkorban nantinya. Jadi, kalau laki-laki yang kamu cintai saat ini tidak memperjuangkanmu, bagaimana jadinya nanti?"

Baca selengkapnya »

Dia Bukan Cina

gambar dari sini



Sedari tadi saya tidak bisa berhenti mengamati sesosok tubuh mungil yang berjarak dua meja dari tempat saya terdiam. Sosok mungil itu sedang bercanda dan tertawa bersama beberapa teman kesebelasannya. Tawanya tampak lepas tanpa beban. Senyumannya tulus kepada siapa saja. Caranya menggerakkan tangan ke udara ketika berbicara membuat ceritanya tampak lebih menyenangkan.

        Indra, laki-laki yang baru beberapa pekan ini saya kenal benar-benar seperti magnet yang menarik perhatian saya. Tubuh mungilnya, rambut lurusnya yang bergoyang-goyang kecil ketika berada di lapangan, hidung mancungnya, mata sipitnya, kulit putihnya, semua yang tampak dari sosoknya benar-benar memesona saya. Membuai mata saya dengan banyak gambar indah dari dirinya. Mengingatkan saya pada kamu yang sudah lama tak saya lihat.

Cina, dia begitu mirip denganmu!

Semakin lama saya semakin jauh masuk dalam medan magnetnya. Menikmati tiap detail tubuhnya yang tidak pernah lelah mampir dalam pandangan saya. Setiap hari, saya habiskan waktu luang saya untuk mendekat kearahnya. Hari ini, ketika sosoknya berada dalam jangkauan, saya mendapati bahwa dia memiliki bau khas yang sama dengan Cina, seperti bau tanah sepeninggal hujan, menyenangkan!

Siapa sangka ternyata saya bisa membuatnya jatuh cinta? Disinilah dia sekarang, duduk dengan jarak satu jengkal dari saya. Tangannya, dengan lembut menyapu punggung tangan saya lalu menggenggamnya perlahan.

Hei, bahkan hangatnya pun sama sepertimu, Cina!

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menemukan tatapan setajam pisau namun setenang arwana  seperti milikmu disana. Tajam, namun menenangkan.

Bagaimana bisa kamu berada disana? Sejak kapan kamu mendiaminya?

Saya selalu suka caranya memperhatikan saya. Dia seperti tanpa bosan memperlakukan saya dengan sopan dan hangat. Dia menemani saya makan malam ketika hujan. Dia terjaga ketika saya terlelap di ranjang rumah sakit. Dia mengirimi saya kata-kata indah. Dia selalu ada disana, kapanpun saya perlukan. Sama sepertimu, dia adalah laki-laki yang begitu menyenangkan.

Aku menemukanmu pada dirinya. Seutuhnya. Sempurna.

Lalu saya berpikir kembali tentang hal-hal pada dirimu yang biasanya membuat saya jatuh cinta. Bagaimana caranya saya jatuh cinta. Perasan apa yang saya rasakan ketika jatuh cinta. Pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya juga ikut berputar dalam kepala.

Yang saya ingat adalah perasaan ‘menggelitik’ setiap kali saya melihat tawamu yang khas. Perasaan itu pun ada ketika tanpa sengaja punggung tangan kita bersentuhan. Mengingatnya kali ini pun membuat saya tersenyum senang.

Semua yang  saya ingat tentangmu ada pada dirinya. Dia seolah dikirimkan Tuhan untuk menggantikan posisimu yang kini tiada. Tuhan pernah dengan tiba-tiba memanggilmu dan itu sempat benar-benar membuat saya hilang arah. Linglung. Mungkin saat ini Tuhan ingin membuat saya bahagia dengan cara ‘mengembalikanmu’ dalam sosoknya.

Tapi Tuhan, mengapa rasanya tidak sama? Mengapa saya masih saja tidak bisa jatuh cinta?



But he's just not you
He's more than I've ever dreamed of
But he's just not you
And no matter how I try to pretend this love
He's too good to be true
And I would be a fool to lose him now
'Cause he helped me through my darkest time
He loves me like you used to
But he's just not you

He's just not you......


-  He's Just Not You dari Stacy Lattisaw
dalam tagar #30HariLagukuBercerita



Paling Terang



Namaku Langit,
dan ini kisahku tentang dia yang selalu ada di dalam diriku.



"Lihat! Disana ada Ikan Terbang!" Ujarku bersemangat sambil menunjukkannya apa yang kutemukan di balik Teleskop Zeiss yang sedari tadi kupegang.

"Hmm... Volans... Keren..." Jo berdecak kagum melihat rasi bintang yang tidak sengaja kutemukan. Sayangnya, aku selalu payah dalam menggunakan istilah rasi bintang yang semestinya dipakai. Tidak seperti Jo, Si Kutu Buku itu selalu gemar menghapal dan menggunakannya. Itu yang dulu membuat Ayah lebih sering memuji Jo ketimbang aku. "Coba cari lagi yang lain!" pintanya, lalu digeser sedikit tubuhnya supaya aku lebih leluasa memakai teleskop dan mencari benda-benda langit lain yang mungkin tampak indah malam ini.

"Jupiter malam ini cantik sekali!" Ucapku girang ketika menemukan planet paling besar di tata surya itu di teleskopku. Jo menarik-narik lengan bajuku, kebiasaannya yang tidak pernah hilang dari dulu, kalau sedang merengek menginginkan sesuatu dariku. "Sebentar...." Ucapku sebal sembari mendorong pelan lengannya sebagai tanda untuk menunggu sebentar. Aku terkekeh geli ketika mataku beranjak dari teleskop dan menemukan bibirnya yang sudah maju beberapa senti.

"Ngambek?"

"Tidak."

"Lalu?"

Jo hanya diam, keningnya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu, "carikan aku Si Dewa Perang!" Ujarnya sedikit merajuk.

"Sekarang tidak ada yang gratis, Jo..." godaku pada Jo yang hanya lebih muda satu tahun dariku.

"Nih!" Ucapnya sambil mengecup pipiku cepat. "Cukup kan untuk mencarikanku Si Dewa Perang?"

Aku tertawa. Segera kusambar teleskopku dan kucari apa yang dia minta, Si Dewa Perang, nama mula Planet Mars--planet kesukaannya.

"Lang, kamu serius bakal kuliah di Jerman?" tanya Jo pelan, lebih terdengar seperti berbisik. Dari cara bicaranya, aku tahu dia berharap bahwa keberangkatanku ke Jerman besok pagi bisa dibatalkan. "Kenapa enggak kuliah di Indonesia aja, sih?"

Kualihkan pandanganku kearahnya. Kutatap dalam-dalam mata almondnya yang besar. "Kamu tahu, kan? Bintang-bintang dan segala isi langit di atas sana sudah menjadi impianku sejak kecil, Jo. Sekarang, impianku sudah di depan mata. Apa lagi yang bisa membatalkan keberangkatanku?"

"Aku?" Tanyanya polos, "Aku belum pernah pisah darimu sebelumnya, bagaimana hari-hariku kedepan tanpa kamu? Kamu tidak memikirkanku?"

Kulengkungkan bibirku menjadi sebuah senyuman paling hangat untuknya, kuraih tangannya dan kugenggam dengan sepenuh jiwa, "Hey, aku nanti pasti akan pulang saat libur musim dingin atau musim panas. Kamu juga bisa mengunjungiku kapanpun kamu mau. Aku berjanji akan sering mengirimimu e-mail, atau sesekali meneleponmu."

Jo hanya diam. Raut wajahnya masih saja sendu. "Lagian, selama masih ada di bawah langit yang sama, kita akan selalu dekat, kan?" sambungku, masih berusaha meyakinkannya. "Bintang yang kita lihat saat ini atau nanti pun masih akan sama. Kamu tenang saja, sudah kusuruh Dewa Perang-mu itu untuk menjagamu!"

Gurauanku sepertinya berhasil, kulihat sendu di wajah Jo mulai pudar. Perlahan, didekatkan pandangannya ke teleskop Zeiss-ku, lalu Jo tersenyum kecil melihat Si Dewa Perangnya di langit sana. "Iya, Lang. Kamu benar. Lagian kita akan selalu satu, aku bahkan selalu ada di dalam dirimu kan, Langit?" ucapnya pelan, sedikit bergurau.

Kali ini, aku yang diam, kata-katanya membuatku sekarat.

Jo...
Untuk kali ini saja, bolehkah aku menngaku padamu tentang semuanya? Tentang cinta dan mimpiku terhadap langit dan seluruh isinya,  tentang alasan lainku untuk memutuskan pindah ke Jerman (Aku bohong soal kita yang selalu dekat nanti, Jo. Langit yang kita lihat tentu akan berbeda, kamu siang dan aku malam, atau sebaliknya.), tentang aku yang diam-diam memang ingin menjauhimu karena sesuatu di dalam diriku yang bahkan tidak kumengerti apa namanya, tentang aku yang merasa bahwa takdir selalu tidak adil untukku...

Kejora, bintang-ku yang paling terang,
kali ini saja, tanpa beban apa pun aku ingin menyatakan bahwa aku mencintaimu, bukan sebagai kakak laki-laki yang selalu menemanimu sejak kau terlahir di dunia, tapi sebagai aku, sebagai aku yang mencintaimu.



Kupandang langit penuh bintang bertaburan
Berkelap-kelip seumpama bintang berlian
Tampak sebuah lebih terang cahayanya
Itulah bintangku, Bintang Kejora, yang indah selalu..........

- Bintang Kejora, karya A.T. Mahmud.

Leaving on a Jet Plane* (Oh Babe I Hate to Go)

gambar dari sini


All my bags are packed, I'm ready to go
I'm standin' here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye...

Rasanya berat banget melangkahkan kaki gue disini, di depan rumah Radit. But, finally here I am. Dengan dua buah koper hitam di kanan dan kiri, gue beranikan diri mengetuk pintu rumahnya.

Tok tok tok...
Tok tok tok...


Berkali-kali gue ketuk pintu rumahnya, namun Radit tidak juga tampak. Gue lirik jam kecil yang melilit di tangan kanan gue, masih pukul 05:05. Ah, iya, gue lupa ini hari Minggu dan dia pasti belum bangun sepagi ini. Gue ketuk sekali lagi, sedikit lebih keras tapi tetap tidak ada yang membukakan pintu. Gue menyerah dan memutuskan untuk menghubungi ponselnya.

"Iya, Ran? Ada apa lu subuh-subuh nelfon gue??" Suaranya terdengar setelah beberapa saat panggilan gue tidak diangkatnya. Radit pasti masih diatas ranjang kamarnya yang empuk dan hangat, batin gue sebal.

"Gue di depan rumah lu, nih. Bukain pintu, woy! Kebo amat sih!" Jawab gue setengah berteriak.

"Eh? Ngapain lu-" Belum sempat Radit menyelesaikan ucapannya, telfon lanngsung gue tutup dan ponsel gue masukkan ke dalam saku baju. Tak lama, pintu rumah terbuka dan gue menemukan Radit disana. Rambutnya acak-acakan dan selimut masih melilit di badannya, gue geleng-geleng heran melihatnya. "Gue berangkat pagi ini. Pesawat jam setengah delapan," ungkap gue to the point.

"Eh? Waktu itu lu bilang berangkat bulan depan nunggu kelulusan?" Tanyanya heran.

"Engak, gue majuin. Mau ngurus administrasi disana, kasian juga nyokap sendirian disana. Nanti orang suruhan bokap gue yang ngurus kelulusan disini. Em, kayaknya juga gue enggak bisa ikut prom nite, deh."

"Lho? Kok lu serba dadakan gini, sih?? Kenapa enggak bilang dari sebelumnya coba? Kan gue bisa nganter lu ke bandara."

"Enggak usah, gue naik taksi aja," jawab gue santai lalu menunjuk kearah taksi biru yang dengan manis menunggu di depan rumah gue yang berada persis di depan rumah Radit. "Tuh taksinya juga udah nunggu..."

But the dawn is breakin', it's early morn
The taxi's waitin', he's blowin' his horn
Already I'm so lonesome I could die...

Radit melihat kearah taksi yang gue tunjuk, "Lu yakin pergi hari ini?" Tanyanya pelan. Gue mengangguk mantap. "Terus Edo gimana? Masa baru jadian sebulan udah lu tinggal?"

Edo adalah pacar gue yang terakhir. Kemarin gue udah mengabari tentang kepergian gue hari ini, dia sangat keberatan awalnya. Namun akhirnya Edo tidak bisa berkata apa-apa karena kemarin juga gue memutuskan buat menyudahi hubungan gue dengan dia. "Gue udah putus sama dia," jawab gue enteng.

"Putus? Lagi?" tanyanya heran. Tentu saja Radit heran, mengingat pula hubungan gue dengan Arya, pacar gue sebelum Edo, juga hanya bertahan 2 bulan saja. Berbeda dengan Radit yang belum pernah pacaran dengan siapapun, gue terkenal sebagai playgirl yang doyan gonta-ganti pacar. Bahkan gue pernah berpacaran dengan lebih dari satu cowok dalam waktu yang bersamaan.

Gue mengangguk pelan, "Ya begitulah..."

Lalu kami terdiam. Gue sibuk dengan sesak yang sedari tadi menyergap masuk ke dalam dada gue. Dan mungkin dia sibuk dengan pikirannya yang entah apa itu. "Bantuin bawa koper gue ke dalam taksi dong, Dit!" ucap gue memecah diam.

Lalu dengan sigap Radit membawa koper gue di tangan kanan dan kirinya dan membawanya ke dalam taksi. Melihat punggungnya yang tegap dari belakang seperti ini membuat gue sadar kalau gue pasti bakal merindukan sosoknya yang entah kapan bisa gue temui lagi itu.

Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go!

Gue menyusulnya dan membantunya memasukkan koper ke dalam bagasi taksi. "Lu balik kapan?" tanya Radit persis di hadapan gue. Dari matanya, gue tahu kalau dia enggak rela dengan kepergian gue. "Rencananya sih nanti habis lulus baru balik. Gue males disini Dit. Males ketemu bokap." Ujar gue jujur. Radit menghembuskan napas pelan, tampak kecewa dengan jawaban gue. Tapi gue yakin dia ngerti perasaan gue. Dia selalu mengerti gue dan kebencian gue dengan bokap. Karena cuma pada dia gue cerita tentang bokap gue yang ketahuan punya istri selain nyokap dan dari istri simpanannya itu dia punya anak kecil berumur tiga tahun. Cuma Radit yang tahu tentang penyebab perceraian orang tua gue itu dan penyebab nyokap memutuskan untuk pergi ke Amerika dan mengurus perusahaan modenya disana. Cuma Radit yang tahu apapun tentang gue.

Dan tiba-tiba saja, Radit menarik gue ke dalam dekapannya. Hangat. Lalu dia mencium lembut bibir gue sebelum melepaskan gue dari pelukannya.

So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go...

"Lu baik-baik ya disana. Jangan bandel, nurut sama nyokap. Jangan sering-sering keluar malem, kan enggak ada gue yang bakal jagain lu. Kuliah yang bener biar cepet lulus terus cepet balik kesini. Gue pasti bakal kangen banget sama lu, Ran," ucapnya serius.

Now the time has come to leave you
One more time, oh, let me kiss you
And close your eyes and I'll be on my way...

Gue speechless dengar kata-kata dia. Sekali lagi, gue peluk dia seerat yang gue bisa. Gue simpan hangatnya, aroma tubuhnya, lembut rambutnya, semuanya. Gue simpan dalam memori buat gue buka lagi nanti, karena gue sadar, it will take a long time to not to see him... and I will miss him so bad.

"Gue berangkat, ya, Dit..." bisik gue lembut ditelinganya. Gue hapus kristal bening di ujung mata sebelum gue bebaskan dia dari pelukan gue. Gue enggak pengen dia lihat seberapa besar gue hancur karena harus meninggalkannya.

Gue longgarkan pelukan gue dan dia terlepas dari sana. Melepaskan lu itu adalah salah satu kebodohan gue, Dit!

Dream about the days to come
When I won't have to leave alone
About the times that I won't have to say ...

Dengan lembut, Radit membukakan pintu taksi buat gue. Sebelum masuk, gue pegang erat tangannya dan gue selipkan sesuatu disana, "Baca kalau taksi gue udah hilang di ujung jalan nanti."

Radit mengangguk lemah.

Gue masuk dan duduk di dalam taksi.

Radit menutup pintu taksi perlahan.

Gue tersenyum kecil kearahnya.
Gue tahu lu selalu bisa ngerti gue, Dit. Tapi apa bisa lu ngerti seberapa patah hati gue saat ini?

"Jalan, Pak," ucap gue pelan, pak supir mengangguk kecil.
Gue tutup kaca jendela disamping gue, enggan menampakkan tangis gue yang perlahan pecah.

Taksi bergerak jalan dan perlahan meninggalkan Jalan Seruni, tempat dimana gue dan Radit tinggal selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Buat gue, memilih untuk memulai kehidupan baru yang jauh dari Radit adalah satu langkah besar yang pasti bakal berat untuk gue jalani. Sebelum taksi belok diujung jalan, gue balikkan badan dan meliht Radit masih berdiri diam dengan sebelah tangan menggenggam erat kertas yang tadi gue selipkan. Sekilas gue lihat dia menunduk, membaca deretan kata yang gue ambil dari lirik salah satu lagu favorit dia. Deretan kata yang mewakili perasaan gue seutuhnya kepada dia, sahabat yang berarti lebih sari sekadar sahabat buat gue. Dit, gue selalu cerita apapun ke elu. Tapi, buat yang satu ini, gue enggak cukup  berani, Dit....


There's so many times I've let you down 
So many times I've played around 
I'll tell you now, they don't mean a thing...



Every place I go, I think of you
Every song I sing, I sing for you
When I come back I'll wear your wedding ring... :'D


I truly love you, Dit.
-Rani-

========================================================================
*Terinspirasi dari lirik lagu John Denver, Leaving on a Jet Plane.

Sapa Aku, Bodoh!


                Tadi, sepulang sekolah aku menemukanmu berjarak beberapa langkah dari tempatku berbicara dengan seorang teman. Aku sempat berharap kamu akan memanggil lembut namaku lalu bertiga kita akan terlibat dalam percakapan, karena bagaimanapun lawan bicaraku adalah sahabatmu.

                Satu menit… Dua menit… Tiga menit… Kamu masih saja diam. Aku tahu kamu sedari tadi memperhatikanku, jangan memandangku terlalu dalam karena gerak-gerikmu tertangkap jelas dari sudut mataku!
                Kamu…. yang gemar menerjemahkanku dalam tulisan indahmu, yang tak bosan ciptakan senyumku ketika pesan singkatmu datang, yang pernah membelikanku kembang gula di pasar malam, yang memujiku cantik meski wajahku kelam, yang  selalu mengingatkanku untuk solat dan makan, yang menyanyikanku sebelum tidur malam, yang mengaku padaku kamu jatuh cinta… Mengapa menyapaku saja kamu enggan?
                Dengan kesal aku tinggalkan tempat itu. Diiringi tatapanmu yang enggan melepaskan, aku mengumpat dalam hati: Sapa aku, Bodoh!