Ikat Rambut

Gelisah.
Balik kanan. Balik kiri.
Sibuk cari posisi nyaman, geser sana sini.

Sudah hampir sejam. Tahu kan rasanya badan kehabisan tenaga, mata panas ingin lelap, tapi diri tak kunjung pasrah?

Padahal tidak disuruh kerja, hanya perlu pejam dan hilang beberapa saat, istirahat dan taruh semua penat, biar waras, biar tetap sehat. Kasihan, tidur jadi barang langka yang sungguh nikmat.

Mama yang sudah mendengkur tersentak, terganggu aku yang padahal sudah mencoba sediam mungkin mencari lelap. Mama tarik napas berat, mungkin kasihan lihat anaknya lagi lagi kewalahan istirahat.

“Mama usap, ya..” setengah sadar meletakkan tangan di jidat, mengusap pelan penuh sayang.

Aku pasrah. Biasanya ini selalu kutolak, aneh rasanya kalau orang lain yang mengusap. Seperti tombol on-off di mainan anak-anak, usap jidat memang jadi hal paling jitu untuk buatku lelap.

“Gimana mau tidur, ini lepas dulu rambutnya masih terikat..”,

Tangisku pecah, sejadi-jadinya terisak.

Aku menyerah, Mas. Aku tidak kuat. Aku rindu. Aku rindu kamu usap jidat bila bandel tidak juga jatuh lelap. Aku rindu tertidur cepat di pelukan. Aku rindu kamu lepas ikat rambut, setiap malam, tanpa kuminta, hanya biar ku nyaman. Aku rindu.

Masih terisak, samar kulihat kamu di sudut kamar, masih dengan senyum teduh bikin tenang, mengagguk pelan, “Sudah, dibuka dulu ikat rambutnya, terus tidur ya, istirahat..”

Yang terakhir kuingat aku masih terisak sambil menatap kamu nanar, ingin melompat dan memeluk sangat erat, biar kamu tetap tinggal, tapi mata rasanya berat..

...

22 May 2020,
Mengenang 7 hari kepergian Mas.
Dari aku, yang masih belajar kuat.

Tidak ada komentar on "Ikat Rambut"

Leave a Reply