Paling Terang



Namaku Langit,
dan ini kisahku tentang dia yang selalu ada di dalam diriku.



"Lihat! Disana ada Ikan Terbang!" Ujarku bersemangat sambil menunjukkannya apa yang kutemukan di balik Teleskop Zeiss yang sedari tadi kupegang.

"Hmm... Volans... Keren..." Jo berdecak kagum melihat rasi bintang yang tidak sengaja kutemukan. Sayangnya, aku selalu payah dalam menggunakan istilah rasi bintang yang semestinya dipakai. Tidak seperti Jo, Si Kutu Buku itu selalu gemar menghapal dan menggunakannya. Itu yang dulu membuat Ayah lebih sering memuji Jo ketimbang aku. "Coba cari lagi yang lain!" pintanya, lalu digeser sedikit tubuhnya supaya aku lebih leluasa memakai teleskop dan mencari benda-benda langit lain yang mungkin tampak indah malam ini.

"Jupiter malam ini cantik sekali!" Ucapku girang ketika menemukan planet paling besar di tata surya itu di teleskopku. Jo menarik-narik lengan bajuku, kebiasaannya yang tidak pernah hilang dari dulu, kalau sedang merengek menginginkan sesuatu dariku. "Sebentar...." Ucapku sebal sembari mendorong pelan lengannya sebagai tanda untuk menunggu sebentar. Aku terkekeh geli ketika mataku beranjak dari teleskop dan menemukan bibirnya yang sudah maju beberapa senti.

"Ngambek?"

"Tidak."

"Lalu?"

Jo hanya diam, keningnya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu, "carikan aku Si Dewa Perang!" Ujarnya sedikit merajuk.

"Sekarang tidak ada yang gratis, Jo..." godaku pada Jo yang hanya lebih muda satu tahun dariku.

"Nih!" Ucapnya sambil mengecup pipiku cepat. "Cukup kan untuk mencarikanku Si Dewa Perang?"

Aku tertawa. Segera kusambar teleskopku dan kucari apa yang dia minta, Si Dewa Perang, nama mula Planet Mars--planet kesukaannya.

"Lang, kamu serius bakal kuliah di Jerman?" tanya Jo pelan, lebih terdengar seperti berbisik. Dari cara bicaranya, aku tahu dia berharap bahwa keberangkatanku ke Jerman besok pagi bisa dibatalkan. "Kenapa enggak kuliah di Indonesia aja, sih?"

Kualihkan pandanganku kearahnya. Kutatap dalam-dalam mata almondnya yang besar. "Kamu tahu, kan? Bintang-bintang dan segala isi langit di atas sana sudah menjadi impianku sejak kecil, Jo. Sekarang, impianku sudah di depan mata. Apa lagi yang bisa membatalkan keberangkatanku?"

"Aku?" Tanyanya polos, "Aku belum pernah pisah darimu sebelumnya, bagaimana hari-hariku kedepan tanpa kamu? Kamu tidak memikirkanku?"

Kulengkungkan bibirku menjadi sebuah senyuman paling hangat untuknya, kuraih tangannya dan kugenggam dengan sepenuh jiwa, "Hey, aku nanti pasti akan pulang saat libur musim dingin atau musim panas. Kamu juga bisa mengunjungiku kapanpun kamu mau. Aku berjanji akan sering mengirimimu e-mail, atau sesekali meneleponmu."

Jo hanya diam. Raut wajahnya masih saja sendu. "Lagian, selama masih ada di bawah langit yang sama, kita akan selalu dekat, kan?" sambungku, masih berusaha meyakinkannya. "Bintang yang kita lihat saat ini atau nanti pun masih akan sama. Kamu tenang saja, sudah kusuruh Dewa Perang-mu itu untuk menjagamu!"

Gurauanku sepertinya berhasil, kulihat sendu di wajah Jo mulai pudar. Perlahan, didekatkan pandangannya ke teleskop Zeiss-ku, lalu Jo tersenyum kecil melihat Si Dewa Perangnya di langit sana. "Iya, Lang. Kamu benar. Lagian kita akan selalu satu, aku bahkan selalu ada di dalam dirimu kan, Langit?" ucapnya pelan, sedikit bergurau.

Kali ini, aku yang diam, kata-katanya membuatku sekarat.

Jo...
Untuk kali ini saja, bolehkah aku menngaku padamu tentang semuanya? Tentang cinta dan mimpiku terhadap langit dan seluruh isinya,  tentang alasan lainku untuk memutuskan pindah ke Jerman (Aku bohong soal kita yang selalu dekat nanti, Jo. Langit yang kita lihat tentu akan berbeda, kamu siang dan aku malam, atau sebaliknya.), tentang aku yang diam-diam memang ingin menjauhimu karena sesuatu di dalam diriku yang bahkan tidak kumengerti apa namanya, tentang aku yang merasa bahwa takdir selalu tidak adil untukku...

Kejora, bintang-ku yang paling terang,
kali ini saja, tanpa beban apa pun aku ingin menyatakan bahwa aku mencintaimu, bukan sebagai kakak laki-laki yang selalu menemanimu sejak kau terlahir di dunia, tapi sebagai aku, sebagai aku yang mencintaimu.



Kupandang langit penuh bintang bertaburan
Berkelap-kelip seumpama bintang berlian
Tampak sebuah lebih terang cahayanya
Itulah bintangku, Bintang Kejora, yang indah selalu..........

- Bintang Kejora, karya A.T. Mahmud.

1 komentar on "Paling Terang"